Blog

Mengapa Harus Berinvestasi di Sektor Energi Baru Terbarukan?

Posted on August 27, 2021 by caturelangenergi

Pada tahun 2020 raihan investasi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia mencapai Rp.19,2 triliun. Tidak mengherankan jika pada tahun 2021, pemerintah begitu optimis menargetkan investasi pada energi baru terbarukan dengan target Rp.28,9 triliun. Nilai tersebut setara dengan US$ 2,05 miliar (asumsi kurs per US$ adalah Rp.14.100). Peningkatan target pada tahun 2021 ini juga didasarkan pada pencapaian tahun 2020. 

Meski Indonesia mengalami pandemi COVID-19, tren investasi pada energi baru terbarukan tidak surut. Pada tahun 2019, perolehan prosentase 9,2% pada tahun 2020 justru mengalami kenaikan menjadi 11,51%. Oleh karena itu, pandemi yang belum usai pada tahun 2021 juga tidak menutup kemungkinan bahwa investasi EBT tetap akan mengalami kenaikan. Terlebih melihat keseriusan pemerintah untuk merealisasikan target tersebut. 

Dukungan dari Regulasi Pemerintah

Alasan pertama mengapa sektor EBT akan menjadi investasi yang menjanjikan adalah semakin banyaknya dukungan dari pemerintah melalui beragam regulasi terkait. Berikut ini adalah beberapa regulasi terkait energi baru terbarukan antara lain:

  1. Rancangan Peraturan Presiden yang mengatur kebijakan harga jual listrik EBT 
  2. Peraturan Menteri tentang cofiring dan Refused Derived Fuel (RDF)
  3. Revisi Peraturan Menteri tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap 
  4. RUPTL 2021 – 2030 (masih dalam tahap penyusunan)

Bahkan Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto telah menyerahkan kepada Badan Legislasi hasil pembahasan RUU EBT pada 1 Juli 2021. Dalam berbagai upaya, termasuk aturan dari regulasi pemerintah, rapor baik kementrian ESDM pada semester 1 tahun 2021 adalah realisasi investasi energi baru terbarukan. Pencapaiannya menyentuh nilai 52,79% dari target yang dicanangkan pada tahun ini, yaitu senilai US$ 1,07 miliar.

Investasi pada bidang energi baru terbarukan pada tahun ini mempunyai prospek masa depan. Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa, bahwa investasi pada energi baru terbarukan optimis meningkat pada tahun depan (2022) karena prospek RUPTL, konstruksi sejumlah proyek listrik dan pebisnis juga mulai berminat pada energi baru terbarukan.

Potensi Sumber Daya Besar

Indonesia saat ini masih bergantung pada bahan bakar fosil, salah satunya terlihat dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara yang masih mendominasi. Padahal, selain menghasilkan emisi karbon yang merusak lingkungan dan menyebabkan pemanasan global, harga bahan bakar fosil tidak stabil. Seperti awal tahun 2020, yaitu saat permintaan minyak di Amerika mentah mencapai titik negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah. 

Peralihan menuju EBT adalah solusi yang lebih bersih sekaligus didukung dengan ketersediaan energi yang lebih baik. Seperti energi matahari misalnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya yang sangat besar. Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, sampai saat ini baru memanfaatkan potensi EBT pada kisaran 2%. Artinya, total EBT yang terpakai adalah 10.467 MW dari keseluruhan potensinya yang dapat mencapai 400.000 MW. 

Selain dari aspek ketersediaan sumber daya yang besar, jika mengacu pada hukum permintaan maupun penawaran pasar, energi baru terbarukan ini akan terus bertumbuh. Terlebih lagi dengan peningkatan kesadaran dari pemerintah, organisasi lingkungan hingga pihak perorangan untuk menjadikan dunia bebas dari emisi karbon. 

Menciptakan Lapangan Pekerjaan

Keterpurukan ekonomi sebagai akibat dari pandemi Covid-19, terlihat salah satunya dari angka pekerja terdampak, dari sisi penghasilan hingga kehilangan pekerjaan. Seperti yang dipaparkan oleh Kementrian Tenaga Kerja, sebanyak 29,4 juta pekerja di-PHK atau dirumahkan hingga Maret 2021. Pemulihan ekonomi pasca Covid-19 tentu membutuhkan dukungan berbagai sektor untuk dapat kembali menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka. 

Berdasarkan “Skenario Transformasi Energi” IRENA, diperkirakan jumlah pekerjaan energi baru terbarukan di seluruh dunia akan meningkat. Pada tahun 2050, lapangan pekerjaan dalam bidang energi baru terbarukan diprediksi akan tumbuh mencapai angka 42 juta. Bahkan untuk pekerjaan di sektor efisiensi energi diperkirakan akan tumbuh hingga enam kali lipat, yaitu mencapai 21 juta pekerjaan. 

Berbagai data di atas semakin menegaskan bahwa pemanfaatan EBT, termasuk salah satunya panel surya, adalah investasi yang sangat menjanjikan. Panel surya dapat menjadi solusi untuk penghematan biaya listrik, energi bersih sekaligus pemulihan ekonomi pasca pandemi. Terlebih jika program peralihan energi Anda didukung oleh tim terbaik Catur Elang Energi. Dengan keahlian dan pengalaman di bidangnya, Anda dapat memperoleh manfaat optimal antara kecanggihan teknologi dan ketersediaan energi melimpah. 

Hubungi tim marketing CEE untuk informasi selengkapnya dan kami siap mendukung terwujudnya salah satu investasi terbaik Anda! (Septiani)

Halo!

Konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim representatif kami untuk chat via WhatsApp





Kembali
6281288770321
x
Halo, kami siap membantu Anda!