Blog

Penerapan PLTS Tercapai, Pemanasan Global Dunia Selesai

Posted on June 23, 2021 by caturelangenergi

Isu kondisi lingkungan yang semakin memburuk membuat beberapa pihak mulai mempertimbangkan solusi melalui penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Alternatif sumber energi yang dianggap jauh lebih ramah lingkungan karena memproduksi polusi lebih sedikit. Terutama terkait dengan pemanfaatan energi untuk pembangkit listrik yang saat ini masih menjadi salah satu kebutuhan energi utama untuk aktivitas manusia. 

Saat ini, sumber energi yang paling banyak digunakan adalah energi fosil, seperti batubara dan minyak bumi. Tak terkecuali juga di Indonesia, mayoritas pembangkit listrik masih menggunakan sumber energi batubara. Angka penerapan PLTS bahkan masih di bawah 5% di seluruh Indonesia. Padahal faktanya hal itu menjadi salah satu penyebab utama dari pemanasan global yang semakin memburuk, seperti yang akan dibahas lebih lanjut di bawah ini!

Kondisi Pemanasan Global Saat Ini

Sebenarnya perubahan iklim adalah sesuatu yang secara alamiah terjadi seiring berjalannya waktu dari tahun ke tahun. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, hal itu telah menyebabkan pemanasan global terjadi di luar batas normal rata-rata, sehingga perubahan iklim kini lebih sering disebut sebagai krisis iklim.

Suhu bumi telah meningkat yang menyebabkan lebih banyak gelombang udara panas. Akibatnya, daerah yang dilalui gelombang tersebut akan mengalami kenaikan suhu yang signifikan. Seperti yang dialami Australia pada Januari 2020, saat itu gelombang panas memicu salah satu kebakaran hutan terbesar. 

Selain gelombang udara panas, pergantian musim juga semakin sulit diprediksi dan diiringi oleh kondisi cuaca ekstrim. Menyebabkan bencana yang lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Seperti banjir Jakarta tahun 2020, yang diklaim salah satu banjir terparah. Ironisnya, hal itu terjadi di rentang waktu yang hampir bersamaan saat Australia sedang kebingungan dengan kebakaran hutannya. 

Mengapa Penerapan PLTS Dapat Menjadi Solusi?

Emisi gas yang menumpuk di atmosfer membuat panas dari matahari tidak dapat kembali terpantul. Hal itu kemudian membuatnya terperangkap, meningkatkan suhu rata-rata bumi yang kemudian disebut dengan pemanasan global. Itulah mengapa mengurangi produksi emisi gas dianggap salah satu solusi paling efektif untuk mengatasi pemanasan global. 

PLTS dianggap sebagai salah satu solusi yang berpotensi membawa perubahan besar, karena jauh lebih sedikit memproduksi polusi. Khususnya ketika dibandingkan dengan sumber energi yang saat ini banyak digunakan, yaitu bahan bakar fosil seperti gas alam, batu bara dan minyak bumi. 

Selain itu, ketika pembangkit listrik yang saat ini banyak didominasi oleh PLTU Batu bara digantikan dengan lebih banyak penerapan PLTS, otomatis produksi emisi karbonnya akan menurun. Sungai dan lahan yang selama ini menjadi korban dari pencemaran tambang batu bara pun tidak semakin memburuk dan dapat mulai diperbaiki kualitasnya. 

Lagipula energi dari panas matahari tersedia dalam jumlah besar, mencapai 207,8 Giga Watt Peak (GWp). Sedangkan realisasi masih berada di angka 0,15 GWp. Jadi masih tersedia energi dalam kuantitas yang sangat besar untuk dimanfaatkan oleh pembangkit listrik di seluruh Indonesia. 

Target Penerapan PLTS Indonesia

Pemerintah menargetkan untuk Indonesia dapat mencapai angka 23% untuk pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) pada tahun 2045. Tentu saja itu berarti PLTS menjadi salah satu yang ditarget untuk lebih banyak diterapkan, karena sinar matahari termasuk EBT. Sedangkan faktanya saat ini angka realisasi pemanfaatan EBT masih berada di 19,5%. Sehingga masih ada gap yang cukup besar untuk dikejar dalam beberapa tahun mendatang, salah satunya pemanfaatan panel surya. 

Hal ini sebenarnya target yang realistis, apalagi dengan tren biaya penerapan PLTS yang semakin menurun. Bahkan diklaim bahwa sebenarnya PLTS saat ini menjadi alternatif paling murah di dunia, karena sudah mencapai angka 1,35 sen/kWh. Termasuk ketika dibandingkan dengan energi fosil batubara yang saat ini masih mendominasi di Indonesia. Biayanya di luar biaya karbon saja sudah lebih mahal dibandingkan PLTS. 

Dari fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya saat Indonesia mengoptimalkan potensi tenaga surya, bukan hanya akan mencapai target pemanfaatan EBT. Hal itu juga akan sekaligus menjadi solusi untuk masalah pemanasan global, karena diprediksi mampu mengurangi kadar emisi gas rumah kaca hingga 29 persen pada tahun 2030. 

Penerapan PLTS dengan asumsi biaya yang lebih kecil dibanding PLTU batubara juga akan menjadi solusi yang jauh efisien. Dengan minimnya angka polusi, hal itu pun akan menghemat biaya untuk penanganan permasalahan polusi udara. Apalagi jika kita didukung oleh partner yang tepat untuk menjalani proses transformasi ini. 

Tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk beralih ke penggunaan panel surya. Dengan garansi yang mencapai 25 tahun dan perawatan yang sangat mudah, perusahaan Anda akan mendukung salah satu target perubahan penting untuk masa depan Indonesia dan Bumi. Hubungi tim marketing CEE sekarang dan penerapan PLTS pasti akan jauh lebih mudah dari yang Anda bayangkan!

Halo!

Konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim representatif kami untuk chat via WhatsApp





Kembali
6281288770321
x
Halo, kami siap membantu Anda!